Program Belajar Ilmu Syar'i

Bersama Native Speaker

Ide Dasar

Tidak dapat dipungkiri bahwa ghiroh (semangat) untuk belajar Islam meningkat drastis  dalam dua dekade belakangan di tengah-tengah kaum muslimin. Hal ini dibuktikan dengan menjamurnya puluhan bahkan ratusan sekolah dasar dan sekolah menengah Islam, termasuk pondok pesantren. Menghafal Al Qur’an kini bukanlah hal asing lagi, bahkan sejumlah stasiun TV Swasta Nasional memiliki acara khusus seputar mereka yang berprestasi dalam menghafal Al Qur’an.

Sejumlah lomba (musabaqoh) dalam  menghafal Al Qur’an digelar dimana-mana, baik dalam skala kotamadya/kabupaten, provinsi, nasional, maupun internasional. Bahkan beberapa tahun belakangan juga mulai disemarakkan dengan lomba menghafal hadits.

Kalaulah dulu di era ’90-an pesantren masih diasumsikan sebagai sekolahnya ‘anak-anak bandel’ atau ‘pilihan terakhir ‘ bagi yang tidak diterima di sekolah umum favorit. Kenyataannya; kini mayoritas pesantren sampai menolak calon santri karena keterbatasan daya tampung dan membludaknya peminat. Padahal, untuk mendaftarkan diri sebagai santri terkadang harus merogoh kocek yang tak sedikit, mulai dari ratusan ribu hingga puluhan juta.

Namun sayangnya, menjamurnya lembaga pendidikan Islam dan pondok pesantren tersebut tidak diimbangi dengan ketersediaan tenaga pengajar yang berkompeten dan berkualifikasi. Penulis sendiri menyadari bahwa kendatipun dirinya dan teman-teman sealmamaternya telah mengenyam pendidikan ilmu syar’i selama belasan tahun di kota Madinah, bersama para masyayikh dan ulama, akan tetapi penguasaan ilmu syar’i kami masih jauh dari para masyayikh tersebut, bahkan kami  (mahasiswa Indonesia) cenderung kalah bersaing dengan mahasiswa Arab, khususnya yang dari Yaman. Bahkan sering kali tersaingi oleh mahasiswa dari sejumlah negara di Afrika (Mesir, Sudan, Libya, Al Jazair, Maroko, Somalia, Chad, Nigeria, dan Mauritania)… demikian pula dengan mahasiswa India dan Pakistan yang lebih sering mendominasi rangking 10 besar dan menonjol dari segi hafalan.

Setelah penulis analisa, ternyata sumber masalahnya ialah pada konsep pembelajaran ilmu syar’I yang diterapkan di mayoritas lembaga pendidikan di Indonesia. Di negeri kita, bahasa Arab kurang mendapat perhatian dan cenderung diajarkan secara parsial. Ada sejumlah pesantren yang cukup handal dalam penguasaan ilmu nahwu-shorof, akan tetapi santrinya tidak fasih berbicara dalam bahasa Arab, apalagi menulis kitab. Namun ada pula yang cukup fasih berbahasa Arab namun penguasaan mereka terhadap ilmu nahwu-shorof sangat minim, dan tidak ada matan ilmu nahwu yang mereka hafal. Akibatnya, kemampuan bahasa mereka berkurang perlahan-lahan, terutama setelah mereka tidak lagi aktif berbahasa Arab atau tidak mengajarkan ilmu-ilmu tersebut.

Ada pula yang mengajarkan bahasa Arab dengan bahasa Indonesia, dan ini tentunya memiliki kelemahan tersendiri, karena masing-masing bahasa memiliki kekhasan dalam gramatika dan uslub yang tidak bisa diungkapkan dengan bahasa lain.

Sistem pembelajaran ilmu syar’I di Indonesia juga cenderung pasif dan searah. Guru jauh lebih banyak berperan daripada murid. Murid/santri tidak dilatih untuk berpartisipasi lebih banyak seperti dengan membaca matan/diktat, menghafal dan mentasmi’ mufradat, hiwar (diskusi), dan khutbah. Sehingga kemampuan verbal mereka menjadi pasif dan teoritis. Mereka walau menguasai teori namun kesulitan dalam berkomunikasi langsung.

Lemahnya penguasaan bahasa Arab baik secara teoritis maupun praktis ini, berpengaruh kuat terhadap kemampuan santri dalam menguasai ilmu-ilmu syar’i lainnya, seperti akidah, tafsir, fiqih, hadits, ushul fiqih, dan lain sebagainya.

Oleh karena itu, perlu ada perubahan yang mendasar dalam metode pembelajaran ilmu-ilmu syar’I, mulai dari bahasa Arabnya. Di samping perlunya meningkatkan kompetensi para guru. Sebab itulah kami melihat bahwa keberadaan native speaker memiliki peran yang signifikan dalam hal ini, apalagi jika didukung dengan sistem mulazamah yang memfokuskan santri untuk belajar 1 atau maksimal 2 disiplin ilmu dalam 1 periode hingga ia benar-benar menguasainya.

 

Raudhatul Athfal (RA)

Bagi anak-anak usia 5-6-7 tahun, kami menyiapkan program RA selama 1 tahun. Program ini menitik beratkan pada penguasaan skil-skil dasar seperti membaca dan menulis huruf Arab, serta tajwid praktis.

Anak-anak akan belajar mengenal dan mengeja huruf hijaiyyah dengan fasih, serta diajari sejumlah kaidah penting dalam membaca Al Qur’an. Karena bila anak telah mampu mengeja dengan baik dan benar, maka dapat dipastikan ia mampu membaca setiap kata yang berharakat dalam bahasa Arab dengan baik dan benar pula.

Anak-anak juga akan belajar menulis huruf Arab dan kaidah-kaidah imla’. Kemudian mereka diajari tajwid terapan, sehingga lidah mereka terlatih untuk melafalkan ayat-ayat Al Qur’an dengan baik dan benar.

Dalam periode ini, pengajarannya full menggunakan bahasa pengantar bahasa Arab. Baik oleh pengajar native speaker maupun oleh pengajar lokal yang terlatih dan tersertivikasi oleh kami.

Dalam periode ini anak-anak hanya menghafal sedikit sekali dari Al Qur’an, karena fokus kami ialah membekali mereka dengan skil membaca, bukan mentalqin surat demi surat Al Qur’an, yang tentunya ini sangat menguras waktu para guru dan tidak memberi skil membaca kepada santri/murid itu sendiri.

TARGET

Madrasah Ibtidaiyyah (MI)

Setelah anak didik melewati jenjang RA, maka dalam jenjang ini mereka akan digembleng untuk menghafal Al Qur’an 5 juz dan 500 hadits per tahunnya. Dengan demikian mereka akan hafal Al Qur’an 30 Juz dan hafal 3000 hadits dalam lima tahun. Seiring dengan banyaknya ayat dan hadits yang mereka hafal, otomatis banyak pula kosakata Arab yang mereka hafal, sehingga mereka tidak akan kesulitan untuk menggunakannya dalam percakapan karena selama ini mereka senantiasa mendengar guru-gurunya menyampaikan dalam bahasa Arab.

Kami juga mengalokasikan waktu khusus bagi anak-anak untuk belajar bahasa Indonesia di akhir jenjang MI secara intensif. Tujuannya adalah agar mereka tetap memiliki kemampuan berbahasa Indonesia dengan baik tanpa mengganggu penguasaan ilmu-ilmu lainnya.

Di samping itu, anak-anak juga akan diikut sertakan dalam program kejar paket untuk mendapatkan ijasah negara.

Alokasi waktu belajarnya ialah 5 hari dalam sepekan (Senin hingga Jum’at) dengan durasi belajar 3 hingga 4 jam seharinya. Dimulai dari jam 07.00 hingga jam 11.00, kecuali hari Jum’at maka hingga jam 10.00 siang.

TARGET

Madrasah Tsanawiyyah (MTs)

Bagi anak didik yang telah mengenyam pendidikan dasar dengan metode kami, maka dalam jenjang ini mereka akan digembleng dengan metode mulazamah (belajar intensif) yang terbagi dalam 6 sessi setiap harinya, dari Senin hingga Jum’at.

Pilihan disiplin ilmu yang akan dikuasai dapat disesuaikan dengan kebutuhan santri dan ketersediaan SDM kami. Namun secara garis besar, bila santri memilih untuk mendalami bahasa Arab, maka dalam tiga tahun berikutnya ia akan belajar ilmu Nahwu, Shorof, dan Balaghah, masing-masing setahun. Santri harus menghafal matan-matan penting dalam setiap ilmu tersebut hingga benar-benar menguasainya.

Sedangkan bila santri memilih ranah fiqih, maka ia akan belajar Fiqih, Ushul Fiqih, dan Qowa-id Fiqhiyyah. Kesemuanya harus mengacu kepada salah satu dari madzhab fiqih yang mu’tabar, yang disini kami mengacu kepada Fiqih Hambali, sesuai kompetensi SDM kami saat ini.

TARGET

WaktuKegiatan
Selepas shalat Subuh hingga jam 07.00 Mulazamah sessi 1
Jam 07.00 hingga 08.30 Istirahat, MCK, Sarapan
Jam 08.30 hingga 10.30 Mulazamah sessi 2
Jam 10.30 hingga 12.30 ISHOMA
Jam 12.30 hingga ashar Mulazamah sessi 3
Selepas shalat ashar hingga 1 jam berikutnya Mulazamah sessi 4
Selepas maghrib hingga isya’ Muhadharah Umum, motivasi
Selepas isya’ hingga maksimal 1 jam berikutnya Tanya jawab

Opsi lain yang mungkin diambil dalam jenjang ini maupun jenjang-jenjang berikutnya ialah:

Setelah menyelesaikan tiga disiplin ilmu pilihan tersebut, santri dapat mengikuti pelajaran umum untuk mengambil ijasah negara dengan program kejar paket.

Madrasah Aliyah (MA)

Dalam jenjang ini, santri dapat memilih tiga disiplin ilmu lainnya yang belum ia kuasai pada jenjang Tsanawiyyah. Sistem pembelajarannya juga sama dengan jenjang sebelumnya, yaitu menganut sistem mulazamah dan boarding school.

Santri juga dapat mengikuti pelajaran umum untuk mengambil ijasah negara dengan program kejar paket.

TARGET

Ma’had Aly

Dalam jenjang ini, santri dapat memilih tiga disiplin ilmu lainnya yang belum ia kuasai pada jenjang Tsanawiyyah. Sistem pembelajarannya juga sama dengan jenjang sebelumnya, yaitu menganut sistem mulazamah dan boarding school.

Santri juga dapat mengikuti pelajaran umum untuk mengambil ijasah negara dengan program kejar paket.

TARGET

Kaderisasi Guru RA

Kami juga senantiasa membuka program I’dadul Mu’allimin, untuk mencetak kader-kader guru RA, TPA, dan Tahsin; baik bagi anak-anak, remaja, maupun dewasa. Mereka cukup mengikuti pelatihan intensif selama satu hingga tiga bulan untuk menguasai teknik-teknik bagaimana mengajarkan baca-tulis Arab kepada peserta didik. Mereka juga akan diajari bagaimana membuka taman-taman bacaan Al Qur’an dan bagaimana menjadi pengajar (guru) yang sukses.

TARGET

Kaderisasi Guru MI

Adapun program ini ditujukan untuk mengkader guru-guru yang akan menjalankan sistem pembelajaran jenjang MI kami. Kami menggunakan prinsip (فاقد الشيء لا يعطيه) ‘Orang yang tidak memiliki sesuatu, tidak bisa memberikannya’. Artinya, kalau kita ingin anak-anak kita hafal Al Qur’an, maka ia harus dididik oleh guru-guru yang hafal Al Qur’an. Demikian pula dengan ilmu-ilmu lainnya sesuai target yang kita tetapkan.

 

TARGET